Kamis, 11 Januari 2018

Tak Mungkin Nabi Cekikikan

Bagaimana kabar semua sahabat!??, semoga selalu dalam limpahan rahmat Allah Swt. Senyum atau bergaya dengan terbahak-bahak mungkin sangat melegakan luapan secara spontan, tapi alangkah miris ketika kita melakukan dengan demikian. Boleh-boleh saja asal tau tempat dan posisi kita, Cuma secara sikap dan tata laku juga kurang baik lah kira-kira, cukup dengan senyum sedikit menarik posisi wajah atau pipi itu sudah sangat mengasyikkan, dan senyum juga bisa di katakan ibadah juga dalam proporsi yang pas dan tepat. Yuuk simak sedikit goresan catatan di bawah ini ;

Tak Mungkin Nabi Cekikikan


Tak Mungkin Nabi Cekikikan
_Daur 14_
Uraian Brakodin dan respon lainnya mendadak terhenti karena suara tertawa Tarmihim. Terbahak-bahak tapi ditahan. Kedua tangannya menutupi mulutnya. Tapi desakan tawanya sedemikian kuat sehingga semua tahu.

“Ada apa, Him?”, Brakodin bertanya. Agak kaget campur sedikit terganggu, bahkan ada unsur tersinggung.

“Maaf, maaf….”, Tarmihim menjawab sambil mencoba menghentikan tawanya, “saya ini sedang sangat bergembira, tapi campur geli, karena lucu, benar-benar lucu”

“Kok geli? Lucu? Apa yang bikin geli? Apa yang lucu?”

“Ya semua ini”, Tarmihim agak reda tertawa nya, “tetapi yang utama tetap gembira dan bersyukur”

Jitul bersikap nakal: “Saya sedang banyak mempelajari perilaku Kanjeng Nabi Muhammad, dan yang saya banyak temukan adalah beliau sangat murah senyum, tapi hemat tertawa. Tidak ada kabar bahwa pernah tertawa keras, terbahak-bahak, atau terbahak-bahak, terkekeh-kekeh, apalagi cekikikan seperti Pakde Tarmihim”

“Benar sekali, Tul”, Seger menimpali, “akhir-akhir ini saya sering mendengar ceramah yang melarang kita melakukan apa yang tidak dilakukan oleh Rasulullah, contohnya yang tertawa terbahak-bahak seperti Pakde Tarmihim itu. Tidak mungkinlah seorang Nabi tertawa cekikikan, dan kita kan wajib ittiba’ Rasul”

Junit mengutip firman: “Itulah karunia Allah, menggembirakan hamba-hamba-Nya yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh”. [1] (As-Syuro: 23). Junit memang sedang rajin Iqra`.

Tetapi mendadak Tarmihim tertawa nya meledak.

Note
[1]

ذَٰلِكَ الَّذِي يُبَشِّرُ اللَّهُ عِبَادَهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ

Itulah karunia Allah, menggembirakan hamba-hamba-Nya yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh.

Nah demikian kelanjutan halaman yang kemarin, semoga selalu dapat menambah sedikit referensi atau minimal bisa sangat bermanfaat bagi kita dan di sekitar kita. Untuk kita mari selalu belajar dan memanfaatkan diri untuk hal-hal yang lebih baik lagi dan juga merdeka taraf berfikir kita agar tak menemui hal-hal yang tak selaras. Cukup demikian dan terima kasih.



Sumber : Emha Ainun Nadjib Dan Caknun.com

Related Posts

Tak Mungkin Nabi Cekikikan
4/ 5
Oleh