Jumat, 08 Desember 2017

Andaikan Jadi Teroris

Terkadang bersama angin malam aku sempat berfikir, gimana to negara ini kog jadi serba ruwet kalang kabut mengurus, mengelola dan memperbaiki negeri yang subur makmur ini, sampai para masyarakat sendiri saja banting tulang riuh ke negara-negara lain hanya untuk mencari sesuap nasi dan kesejahteraan hidup. bangsa ini besar dengan berlimpah-limpah hasil bumi yang sebenarnya tak akan habis sepanjang mas, tapi kog ruwet kaya begini sistem dan tata kelolanya. apa benar Allah sedang memberi adzab ataukah memang lelaku para penguasa, sehingga masyarakat merasakan ter seok-seok menjadi beribu debu-debu yang berterbangan. yuk simak lanjutan pembahasan Daur yang lau, dan simak lah ulasan di bawah ini ;

Andaikan Jadi Teroris


_Daur 7_
Andaikan Jadi Teroris

Brakodin melanjutkan ceritanya.

“Tidak semua dari 50 ribuan pekerja kita di Negeri itu memiliki watak dan tujuan hidup seperti sebagian yang Mbah Sot berjumpa dengan mereka. Junit pasti berkesimpulan seolah-olah ada di antara mereka yang tidak tergolong dari informasi Tuhan: ”Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah”. (1) (Ar-Ro’d: 11).

“Saya belum pernah tahu ayat itu, Pakde”, Junit mengelak.

“Tapi semua mereka Mujahidin tho Pakde?”, Seger bertanya, “kan mereka semua kerja keras, berkorban meninggalkan kampung halaman, menyeberang sekian lautan, demi menghidupi keluarga mereka di tanah air. Saya tidak tega menyebut mereka bukan Mujahidin”

“Jangan mancing-mancing Iqra` Pakde Brakodin untuk menafsir-nafsirkan arti Mujahidin….”, potong Toling.

Brakodin tersenyum dan meneruskan. “Banyak di antara mereka yang hatinya dipenuhi dendam kepada Indonesia. Tentu bukan kepada Indonesia sebagai tanah air dan Negara. Mereka marah, geram, dan tampak benci kepada yang mengelola Negara. Karena kacaunya pengelolaan itulah mereka terlempar jauh ke Negeri orang demi mencari sesuap nasi”

“Kok Mbah Sot bisa berkesimpulan begitu?”

“Katanya suasana batin itu sangat terpancar di sorot mata dan penampilan wajah mereka. Kalau ada orang dari Indonesia datang dengan pakaian agak bagus atau rapi, apalagi bergaya seperti pejabat, mereka langsung buang muka dan sama sekali tidak mau berkenalan. Kata Mbah Sot, andaikan mereka menjadi teroris, tidaklah mengagetkan”.

Note
(1)

لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِّن بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ

Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah.

Nah demikian penuturan para sahabat-sahabat kita semua di negeri seberang dan di berbagai negara belahan dunia, sikap kebaikan mereka sungguh luar biasa hanya saja mungkin mereka geram cuma karena hatinya seluas lautan jadi menerima saja dari apa yang sudah di lakukan oleh penguasa negara saat ini. semoga wajah zaman dan pemuda penerus bangsa lebih baik dari apa yang kita rasakan saat ini, semoga bermanfaat . salam hangat buat sahabat semuanya.

Sumber : Emha Ainun Nadjib Dan Caknun.com

Related Posts

Andaikan Jadi Teroris
4/ 5
Oleh